Kalimat


Pendahuluan

Kalimat adalah satuan bahasa terkecil yang dapat mengungkapkan pikiran yang utuh. Pikiran yang utuh itu dapat diekspresikan dalam bentuk lisan atau tulisan.
Dalam bentuk tulisan : kalimat ditandai alunan titi nada, keras-lembutnya suara, disela jeda, dan diakhiri dengan nada selesai.
Dalam bentuk tulisan : kalimat dimulai dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik, tanda seru, atau tanda tanya.

Penulis sering tidak memperhatikan kalimat yang dibuatnya sehingga kalimatnya itu tidak memenuhi kaidah pmbuatan kalimat yang benar. Penulis hendaknya memiliki memiliki wawasan bahasa Indonesia yang memadai agar ia dapat menghasilkan kalimat yang gramatikal, baik dalam komunikasi lisan atau tulis.

Dalam penulisan ragam ilmiah, penulis dituntut untuk memiliki kemampuan dalam penyusunan kalimat baku dan kalimat efektif. Kebakuan kalimat ditandai dengan adanya penerapan kaidah kalimat bahasa Indonesia baku. Keefektifan kalimat ditandai oleh ketepatan kalimat untuk mewakili gagasan penulis dan sanggup menimbulkan gagasan yang sama tepat dalam pikiran pembaca.

 

Syarat Kalimat dan Alat Pengetesnya

Persyaratan pokok dalam penentuan sebuah pernyataan berupa kalimat atau bukan adalah:

  1. Adanya unsur predikat
  2. Permutasi unsur kalimat

Contoh :
(1)   Anak itu belajar.
(2)   Orang itu menulis surat.
(3)   Anak yang belajar itu.

Pada contoh (1) dan (3) terdapat verba belajar dan pada contoh (2) terdapat verba menulis. Untuk mengetahui ketiga verba tersebut sebagai predikat atau bukan, perlu dilakukan tes permutasian (perubahan urutan) unsur-unsur pernyataannya.

(1a)      Belajar // anak itu.
(2a)      Menulis surat // orang itu.
(3a)      Yang belajar itu // anak.

Perubahan urutan unsur-unsur kalimat yang disertai perubahan intonasi dalam contoh (1a) dan (2a) ternyata tidak mengubah informasi dasar pernyataan (1 dan 2). Untuk itu, pernyataan (1 dan 2) merupakan kalimat. Namun, permutasi unsur pernyataan (3) menjadi (3a) memperlihatkan perubahan makna dasar pernyataan tersebut. Jadi, pernyatan (3) tersebut bukanlah kalimat. Intonasi pernyataan (3) harus dilengkapi untuk menjadi sebuah kalimat seperti pernyataan (4) berikut ini:

(4)   Anak yang belajar itu menangis. 

Unsur-unsur Kalimat

Kalimat terdiri dari subjek, predikat, objek, pelengkap dan keterangan.

 1) Subjek, ciri-ciri :

  1. Unsur inti disamping predikat.
  2. Cara menentukan subjek dengan mencari jawaban pertanyaan apa dan siapa dalam suatu kalimat.
  3. Disertai kata itu.
  4. Tidak berpreposisi.
  5. Memiliki keterangan pewatas yang.

Contoh : IBU memasak sayur di dapur.

2) Predikat, ciri-ciri  :

  1. Unsur utama di samping subjek.
  2. Jawaban atas pertanyaan mengapa atau bagaimana.
  3. Dapat diingkarkan.
  4. Dalam kalimat nominal terdapat kata adalah/ialah/merupakan sebagai predikat.

Contoh : Megawati TIDAK MELUPAKAN tugas rumah tangganya.

3) Objek, ditemukan dalam kalimat berpredikat verba aktif transitif. Ciri-ciri  :

  1. Unsur kalimat yang diperlawankan dengan subjek.
  2. Berada di belakang predikat.
  3. Tidak berpreposisi.

Contoh : Dia melahirkan GAGASAN YANG BARU.

4) Unsur pelengkap, ciri-ciri :

  1. Menempati posisi belakang predikat
  2. Dapat didahului preposisi
  3. Tidak bisa menjadi subjek kalimat pasif

Contoh:

  1. Komang Rai memberi saya BUKU.
  2. Gede Krisna membawakan ibunya BAJU BARU.

5) Unsur Keterangan, ciri-ciri :

  1. Merupakan unsur kalimat yang memberikan informasi lebih lanjut tentang sesuatu yang dinyatakan dalam kalimat
  2. Bukan unsur utama
  3. Tidak terikat posisi

Contoh:

  1. Dengan komputer pesawat itu dapat dipantau dari bumi
  2. Ibu memasak di dapur
  3. Sekarang manusia telah antipati terhadap makhluk hidup

Jenis Kalimat
Kalimat berfungsi sebagai sarana pembawa gagasan yang ingin disampaikan oleh penulis naskah. Gagasan itu sering pula disebut gagasan utama kalimat atau topik kalimat. Gagasan utama kalimat melebur ke dalam unsur-unsur yang secara tradisional – disebut subjek dan predikat. Kridalaksana menjelaskan (1999;129) membatasi subjek sebagai gatra yang menandai apa yang dinyatakan oleh pembaca, sedangkan predikat merupakan gatra yang menjelaskan, yakni ada apa, bagaimana, atau berapa.

Struktur kalimat tunggal terdiri dari S + P + O/Pel/Ket. Konfigurasi di atas menandakan bahwa gatra S dan P merupakan bagaian inti yang mengandung gagasan utama kalimat. Gagasan utama tersebut dapat dilengkapi dengan O, Pel, atau K bila diperlukan. Jika kalimat itu hanya memiliki satu gatra S dan P, kalimat tersebut disebut berkesatuan tunggal. Kalimat yang memiliki lebih dari satu gatra S dan P disebut berkesatuan majemuk. Kalimat berkesatuan majemuk dapat berwujud dalam relasi koordinatif (setara) dan subordinatif (bertingkat).

Struktur Majemuk Setara terdiri dari S1 + P1 + O/Pel/Ket + Kt Hubung + S2 + P2 + O/Pel/Ket. Kesatuan yang bersifat subordinatif terjadi jika suku kalimat yang satu terikat pada satu suku kalimat lain dengan sarana kata hubung dan suku yang terikat tersebut berlaku sebagai salah satu gatra pada suku yang mengikat.

Kalimat juga bisa dibedakan atas bentuknya, yaitu :

a) Kalimat berita atau deklaratif adalah kalimat yang berisi pemberitahuan atau pernyataan sehingga lawan bicara menjadi tahu tentang sesuatu yang diberitakan, misalnya, Argumen adalah suatu proses pernalaran.
b) Kalimat tanya atau interogatif merupakan kalimat yang dipakai untuk meminta informasi dari lawan bicara, misalnya, Apakah Indonesia mampu bangkit kembali dengan cepat ?
c) Kalimat perintah atau imperatif merupakan kalimat yang mengandung perintah atau permohonan (permintaan) kepada lawan bicara.

 

Kalimat Baku

Kebakuan kalimat bahasa Indonesia ditandai oleh hal-hal berikut:

1)Pemakaian awalan me- dan ber- jika ada, secara jelas (eksplisit) dan ajek (konsisten)
Ragam Baku :
–          Dosen sedang berceramah di kelas.
–          Mahasiswa melaporkan hasil penelitiannya.

Ragam Tidak Baku :
–          Dosen sedang ceramah di kelas.
–          Mahasiswa lapor hasil penelitiannya.

2) Pemakaian fungsi gramatikal, S-P-(O)-(Pel)-(K), secara jelas dan ajek.

Ragam Baku :
–          Mahasiswa itu tidak pernah datang kemari.
–          Hal itu belum dibicarakan.

Ragam Tidak Baku :
–          Mahasiswa itu tidak pernah (P?) kemari.
–          (S?) itu belum dibicarakan.

3) Pemakaaian pola frasa verbal yang berpola aspek+agen+verbal, jika ada, secara ajek.
Ragam Baku :
–          Data itu belum saya analisis.
–          Laporan Anda sudah saya terima.

Ragam Tidak Baku :
–          Data itu saya belum analisis.
–          Laporan Anda saya sudah terima.

4) Pemakaian partikel –kah, dan –pun, jika ada, secara ajek.
Ragam Baku :
–          Kendatipun masyarakatnya tertutup, penelitian harus dilanjutkan .
–          Apakah laporan itu sudah disusun?

Ragam Tidak Baku :
–          Kendati masyarakatnya tertutup, penelitian harus dilanjutkan.
–          Apa laporan itu sudah disusun?

5) Tidak digunakan struktur kalimat yang bersifat kedaerahan.
Ragam Baku :
–          Skripsi Tirta masih dipinjam .
–          Sekolah dan kantor guru sedang diperbaiki.

Ragam Tidak Baku :
–          Skripsinya Tirta masih dipinjam.
–          Sekolah dan kantoran guru sedang diperbaiki.

 

Kalimat Efektif

Beberapa pakar bahasa manyatakan bahwa kalimat efektif adalah kalimat yang dapat menimbulkan gagasan yang sama tepatnya dalam pikiran pendengar atau pembaca seperti yang dipikirkan oleh pembicara atau penulisnya. Ciri utama kalimat efektif dalam bahasa Indonesia antara lain sebagai berikut.

1. Ketentuan Gagasan Setiap kalimat harus menunjukan adanya kesatuan gagasan yang ditandai oleh adanya subjek dan predikat di dalam kalimat. Jika unsur subjek atau predikat tidak ada, hal ini berarti informasi yang ada pada kalimat tersebut tidak lengkap. Contoh:

Efektif : Tahun ini merupakan tahun terakhir kuliahnya.
Kurang efektif: Pada tahun ini merupakan tahun terakhir kuliahnya.

2. Kepaduan Setiap kalimat harus disusun dengan koherensi atau kepaduan yang baik dan kompak antarunsurnya yang dibatasi sebagai hubungan timbal-balik yang jelas di antara unsur-unsur kata yang membentuk kalimat tersebut.

Efektif : Pemerintah sedang memperhatikan kebersihan kotanya.
Kurang efektif : Pemerintah sedang memperhatikan daripada kotanya.

3.  Kesejajaran atau Paralelisme

Paralelisme merupakan penempatan gagasan yang penting dan fungsinya sama ke dalam suatu struktur atau konstruksi gramatikal yang sama dan demikian juga penyajaran kata kerja. Berikut contohnya:

Efektif : Tahun ini Unud sebagai penyelenggara pelatihan mahasiswa, sedangkan tahun depan PTS penyelenggaranya.
Kurang Efektif : Tahun ini Unud sebagai pelatihan mahasiswa, sedangkat penyelenggara depan diselenggarakan oleh PTS.

4. Kata yang dipentingkan harus mendapat tekanan atau harus lebih ditonjolkan daripada unsure-unsur yang lain dengan pengubahan  posisi kata di dalam kalimat, yaitu kata yang dipentingkan diletakkan pada awal kalimat, pengulangan (repitisi) kata yang berfungsi sebagai tumpuan inti pikiran kalimat, urutan yang logis, atau pemakaian partikel penegas (seperti: -lah, -kah). Berikut contohnya:

• Pesta Kesenian Bali X  diresmikan oleh Wakil Presiden
• Wakil Presiden meresmikan Pesta Kesenian Bali X.

5.  Kehematan

Dalam penulisan laporan hendaknya memperhatikan kehematan (ekonomi kata). Diusahakan tidak menggunakan kata- kata yang berlebihan. Contohnya :

Efektif : Anak tetangga saya sudah diwisuda tahun lalu.
Kurang efektif : Anak dari tetangga saya sudah diwisuda tahun lalu.

6.  Variasi

Variasi meupakan upaya untuk penganekaragaman bentuk bahasa agar dapat terpelihara minat dan perhatian pembaca. Misalnya dengan mengadakan variasi sinonim kata  (piasiilihan kata), pajang pendek kalimat, dan struktur kalimat ( aktif- pasif). Contoh :

Bervariasi : Seorang pakar walet menyetujui bahwa alasan penggunaan sarang walet imitasi lebih ditekankan pada aspek keamanan.
Tidak Bervariasi : Seorang pakar walet menyetujui bahwa alasan penggunaan sarang walet imitasi lebih menekankan pada aspek keamanan.

 

Masalah Pemakaian Kalimat Bahasa Indonesia

Ciri-ciri kalimat yang kurang efektif :

1. Kalimat bersubjek ganda
Contoh : Seseorang yang berada di dalam kerumunan massa maka ia akan berprilaku dan berbudaya seperti perilaku massa.

2. Kalimat berpredikat ganda
Contoh : Sebagian orang beranggapan bahwa pemblokiran jalan raya di daerah Kotagede, juga terjadi di daerah Nitikan dan Karangkajen Yogyakarta merupakan sikap anarki yang mengiringi “ritual” kampanye menjelang Pemilu.

3. Kalimat dengan kata penghubung dan kata depan tidak tepat
Contoh : Selain kelompok Darwis, pada konvoi kampanye PPP di kota Yogyakarta selalu diwarnai oleh kelompok-kelompok eksklusif dengan cirri-ciri khusus.

4. Kalimat tidak padu
Contoh : Keruntuhan perbankan yang dialami lebih dari dua tahun ini, membuktikan pernyataan tersebut.

5. Kalimat tidak sejajar
Contoh : Jika semula ditemukan di Jawa dan Sumatra, kini petani menemukannya di Sulawesi.

6. Kalimat tidak hemat
Contoh : Di samping Pancasila, UUD 1945, maka dalam pandangan para pendiri bangsa, bentuk Negara proklamasi kemerdekaan, yaitu Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan pilihan ideal bagi kelangsungan hidup bangsa.

7. Kalimat tidak bernalar
Contoh : Saya sudah dikatakan oleh teman-teman sistem kamar kecil di Indonesia.

 

Penutup

Pembentukan kalimat efektif mensyaratkan penguasaan terhadap tata bahasa Indonesia, kreativitas dalam penggunaan kata, dan daya nalar yang baik. Penguasaan tata bahasa Indonesia akan menghindarkan penulis dari ketidakcermatan dalam menilai kelengkapan gagasan di dalam kalimat dan kepaduan antarunsur pembentuk kalimat. Kreativitas akan mempermudah penulis dalam pembuatan variasi kalimat dan penghematan kata. Dan daya nalar memungkinkan penulis dalam pembuatan kalimat yang masuk akal.

Iklan

jangan lupa beri komentar kawan ..

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s