Mesatua Bali, Budaya yang Semakin Tergerus Zaman


Setiap daerah tentu mempunyai cerita rakyat yang sudah turun temurun diwariskan. Antara daerah yang satu dengan lainnya memiliki ciri khas dalam cerita rakyat masing-masing, tak terkecuali di Bali. Cerita rakyat di Bali memang kebanyakan menggunakan bahasa Bali dan diwariskan dari generasi ke generasi melalui “mesatua” atau dalam bahasa Indonesia artinya “mendongeng atau bercerita”.

Zaman dulu orang tua sering menceritakan cerita-cerita rakyat Bali (mesatua Bali) kepada anak-anak mereka ketika hendak tidur di malam hari.  Namun kini, di zaman yang serba modern, budaya mesatua Bali hampir dipastikan akan segera menjadi kisah lalu. Ratusan bahkan mungkin ribuan versi cerita yang biasanya dituturkan di rumah-rumah, akan segera memasuki fase ‘mati suri’. Pola asuh keluarga Bali kini jauh dari tradisi mesatua. Padahal sesungguhnya dalam mesatua terkandung makna mesatua Balikasih sayang, mencintai sesama ciptaan Tuhan, dan menghargai orang lain serta dapat membangun wawasan yang luas mengenai hidup.

Pengaruh globalisasi dan modernisasi kerap kali dijadikan alasan bagi para orang tua. Di era globalisasi ini, mereka merasa terdesak waktu sehingga semata-mata hanya memikirkan kebutuhan hidup, menginginkan segala sesuatunya menjadi praktis, dan akibatnya tidak ada waktu lagi untuk mesatua Bali kepada anak-anak mereka. Hal ini tentunya sangat disayangkan, mengingat sejatinya lingkungan rumah merupakan tempat terdekat untuk melestarikan budaya mesatua Bali. Namun pada kenyataannya, kini sangat jarang ada keluarga yang berusaha menyempatkan diri untuk meneruskan budaya ini. Yang terlihat seolah-olah para orang tua menomorsekiankan atau bahkan menghilangkan kata “mesatua” dari daftar kegiatan sehari-hari. Di pedesaan misalnya, minat membaca buku khususnya buku cerita atau satua Bali sangat rendah sehingga tingkat pembelian buku pun ikut rendah. Mereka lebih memilih membelanjakan uang untuk membeli perlengkapan banten atau sesajen daripada membeli sebuah buku untuk dibacakan ke anak-anak mereka, meskipun dengan harga yang sama.

Lain halnya di kota. Sebagian dari mereka mungkin menganggap bahwa mesatua Bali itu kuno atau ketinggalan zaman, malu dengan pesatnya arus globalisasi. Akibat terseret arus globalisasi, ditambah dengan minimnya pemahaman tentang pentingnya menjaga budaya, maka mereka menjadi terbiasa hidup ‘kebarat-baratan’ dan lupa dengan budayanya sendiri. Atau sebagian lagi beranggapan bahwa mesatua Bali itu membuang-buang waktu. Tingkat mobilisasi yang sangat tinggi memebuat mereka selalu berpikiran “Time is Money” , “Waktu adalah Uang”. Setiap detik yang ada tak boleh disia-siakan. Akibatnya mereka disibukkan oleh kesibukan masing-masing, sehingga tidak sempat untuk sedikit menyibukkan diri melestarikan budaya Bali tersebut.

Anak-anak zaman sekarang pun disuguhkan dengan berbagai kecanggihan teknologi. Mereka cenderung lebih memilih menonton ‘kartun’ di televisi ataupun bermain ‘gadget’ daripada mendengarkan satua Bali. Satua atau cerita seperti Siap Selem, I Sugih lan I Tiwas, I Belog, Cerucuk Kuning, dan kisah-kisah Ramayana dan Mahabrata mungkin sudah terdengar asing bagi mereka. Tak disalahkan, karena para orang tua juga lebih memilih menonton acara kesukaan mereka di televisi hingga larut malam dibandingkan mesatua atau mendongengkan anak mereka. Inilah yang patut diperbaiki.

Derasnya arus kemajuan teknologi, informasi dan komunikasi telah sangat merasuk ke setiap sisi kehidupan. Kendati demikian, sebaiknya kemajuan teknologi yang ada jangan sampai melumpuhkan kita. Televisi misalnya, dibuatkan acara yang menayangkan satua-satua Bali. Tak harus setiap hari, setidaknya satu atau dua kali seminggu dan ceritanya juga selalu diganti-ganti sehingga anak-anak tidak bosan dan tertarik untuk menonton.

Selain lewat teknologi, bisa juga lewat perlombaan langsung. Berbagai lomba mesatua Bali dari anak-anak hingga remaja telah sering kita dengar. Dengan diadakannya lomba mesatua Bali secara rutin misalnya setiap tahun sekali, diharapkan hal tersebut dapat melestarikan budaya Bali. Budaya mesatua Bali jangan sampai terabaikan, sebab secara tidak langsung mesatua dapat menanamkan nilai-nilai budi pekerti. Hasilnya memang tidak langsung Nampak sekarang, namun dengan mengajarkan anak mesatua, mereka akan tumbuh dengan baik, wawasan mereka menjadi luas dan optimis dalam menjalani hidup serta mampu menajamkan perasaan.

Sejatinya jika kita lebih peka dan mailiki tekad yang kuat untuk mempertahankan budaya mesatua Bali ini, maka pengaruh globalisasi yag tidak baik akan bisa diatasi. Pada intinya semua berpulang kembali pada niat dan kesadaran masing-masing individu untuk tetap melesatarikan budaya ini.

jangan lupa beri komentar kawan ..

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s