Ringkasan – Aneka Warna Manusia dan Kebudayaan Indonesia dalam Pembangunan


  1. Pendahuluan

Dalam bab terakhir ini akan dijelaskan mengenai Masalah Pembangunan dan Modernisasi. Ada beberapa faktor yang disebutkan oleh pengarang, antara lain faktor potensi pertanian (yang juga dipengaruhi faktor sikap mental), faktor potensi pertambangan (logam, batu bara, minyak, dsb), faktor potensi tourisme (misalnya di Bali), faktor perlayaran dan perikanan (misalnya di daerah Bugis, Makasar), faktor pendidikan dan faktor sikap mental.

Beberapa pengarang juga menyebutkan faktor prasarana kemanan dan potensi angkatan kerja. Namun, ada dua faktor penting yang sering dilupakan, yaitu: 1) faktor kenaikan dan tekanan penduduk di Indonesia, dan 2) faktor aneka warna bangsa Indonesia. Faktor sikap mental pun juga dianggap sebagai faktor penghambat yang penting. Ketiga faktor penghambat pembangunan di Indonesia, yaitu: 1) faktor kenaikan penduduk, 2) faktor aneka warna bangsa Indonesia, dan 3) faktor sikap mental penduduk, akan dijelaskan sebagai berikut.

  1. Faktor Kenaikan Penduduk

Faktor jumlah penduduk yang besar dan laju kenaikan penduduk yang semakin cepat merupakan suatu faktor penghambat pembangunan yang masih belum kita sadari. Indonesia sendiri termasuk dalam daftar salah satu negara yang laju penduduknya paling cepat. Laju kenaikan penduduk yang sangat cepat di negara-negara berkembang dikarenakan terlepasnya negara tersebut dari keseimbangan alamiah. Jika tingginya angka kelahiran diimbangi dengan angka kematian yang tinggi pula, maka akan terjadi keseimbangan. Namun jika kita menggunakan ilmu kedokteran Barat, dimana angka kematian anak menurun drastis, maka akan terjadi peningkatan laju kenaikan penduduk. Zaman antara kedua keadaan keseimbangan itu oleh para ahli demografi disebut ‘zaman transisi demografis’.

Perbedaan jumlah penduduk di berbagai provinsi di Indonesia akan menyebabkan aneka warna hambatan terhadap pembangunan. Satu hal yang perlu diperhatikan adalah, bahwa perbedaan antara daerah yang tidak padat dan daerah yang padat, tidak secara otomatis menyebabkan mobilitas perpindahan penduduk dari tempat yang padat ke yang tidak padat. Kenyataannya justru sebaliknya. Hal ini dikarenakan di daerah yang sudah padat terdapat industri dan lapangan kerja yang menarik minat masyarakat, sehingga mereka berbondong-bondong pindah ke daerah yang padat.

  1. Faktor Aneka Warna Bangsa Indonesia

Banyaknya suku di Indonesia bisa menjadi kebanggan tersendiri bagi bangsa. Namun di sisi lain, perbedaan itu seringkali memicu perselisihan dan pertikaian. Proses untuk mengembangkan hubungan yang selaras antar suku-bangsa dan golongan memang tidak mudah. Bangsa Indonesia sendiri pun masih dalam masa perkembangan dalam menyelaraskan hubungan antar suku-bangsa dan golongan. Oleh sebab itu, ada empat aspek yang perlu kita perhatikan dalam hal menganalisa hubungan antar suku-bangsa dan golongan, yaitu: 1) sumber-sumber konflik, 2) potensi untuk toleransi, 3) sikap dan pandangan dari suku-bangsa atau golongan terhadap sesama suku-bangsa atau golongan, dan 4) hubungan dan pergaulan antar suku-bangsa atau golongan yang sedang berlangsung.

Sumber-sumber konflik di Indonesia ada lima macam, yaitu jika: 1) warga dari dua suku-bangsa bersaing memperebutkan mata pencaharian yang sama, 2) warga dari suatu suku-bangsa memaksakan kebudayaannya kepada warga dari suku-bangsa lainnya, 3) warga dari suatu suku-bangsa memaksakan agamanya kepada warga dari suku-bagsa lain yang berbeda agama, 4) suatu suku-bangsa berusaha menguasai suku-bangsa lain secara politis, dan 5) potensi konflik terpendam ada dalam hubungan antara suku-suku bangsa yang telah bermusuhan secara adat.

Potensi untuk bersatu atau bekerja sama ada dua. Pertama, warga dari dua suku-bangsa dapat saling bekerja sama secara sosial-ekonomis sehingga saling melengkapi dan saling membutuhkan (hubungan simbiotik). Kedua, warga dari dua suku-bangsa dapat hidup rukun jika ada orientasi ke arah golingan ketiga yang menetralisir hubungan kedua suku-bangsa tadi.

Sikap dan pandangan dari suku-bangsa atau golongan terhadap sesama suku-bangsa atau golongan secara lebih rinci terwujud dalam sikap antara dua suku-bangsa yang sepadan, dan sikap dari suku-bangsa yang dominan terhadap suku-bangsa yang minoritas, begitu juga sebaliknya.

Tingkat masyarakat dimana hubungan antar suku-bangsa itu berlangsung, bisa di tingkat pedesaan, perkotaan, maupun tingkat nasional. Masalah potensi konflik karena hubungan antar suku-bangsa dan antargolongan bisa diatasi dengan cara menerima aneka warna suku-bangsa di negara kita sebagai suatu fakta, yang harus dipelajari secara mendalam, agar suatu pengertian dan toleransi antar sesamanya serta hubungan kerja sama dapat dikembangkan.

  1. Faktor Sikap Mental Bangsa Indonesia

Faktor sikap mental bangsa Indonesia sering dikatakan sebagai penghambat pembangunan karena masih belum cocok dengan pembangunan. Ada dua hal yang perlu kita ketahui, yaitu apa sebenarnya sikap mental itu, dan apa sikap mental yang cocok untuk pembangunan.

Kata sikap mental merupakan suatu istilah populer untuk dua konsep dalam istilah ilmiah yang disebut “sistem nilai budaya” (culture value system) dan “sikap” (attitude). Sistem nilai budaya adalah suatu rangkaian dari konsep abstrak yang hidup dalam alam pikirian sebagian besar dari warga suatu masyarakat, mengenai apa yang harus dianggap penting dan berharga dalam hidupnya. Kalau sistem nilai budaya merupakan pengarah bagi tindakan manusia, maka pedoman nyatanya adalah norma-norma, huku, dan aturan yang bersifat tegas dan konkret.

Berbeda dengan konsep nilai budaya, konsep sikap bukanlah bagian dari kebudayaan, melainkan suatu hal yang dimiliki setiap individu dalam masyarakat. Sikap adalah potensi pendorong yang ada dalam jiwa individu untuk bereaksi terhadap lingkungannya beserta segala hal yang ada dalam lingkungan itu, dan hal itu berupa manusia lain, binatang, tumbuh-tumbuhan, benda, atau konsep-konsep. Sikap individu biasanya ditentukan oleh tiga unsur, yaitu keadaan fisik dari individu, keadaan jiwanya, dan norma-norma serta konsep-konsep nilai budaya yang dianutnya.

Sikap mental yang cocok untuk pembangunan ada lima konsep. Pertama, dalam menghadapi hidup, orang harus menilai tinggi unsur-unsur yang menggembirakan dari hidup; dan bahwa ada kesengsaraan, bencana, dosa, dan keburukan dalam hidup harus disadari, tetapi hal  itu semuanya adalah untuk diperbaiki. Kedua, sebagai dorongan dari semua karya manusia, harus dinilai tinggi konsepsi bahwa semua orang mengintensifkan karyanya untuk menghasilkan karya lebih banyak lagi. Ketiga, dalam hal menanggapi alam, orang harus merasakan suatu keinginan untuk dapat menguasai alam serta kaidah-kaidahnya. Keempat, dalam segala akitivits hidup, orang harus dapat sebanyak mungkin berorientasi ke masa depan. Kelima, dalam membuat keputusan-keputusan, orang harus bisa berorientasi ke sesamanya, menilai tinggi kerja sama dengan orang lain, tanpa meremehkan kualitas individu dan tanpa menghindari tanggungjawab sendiri.

Kita memang tidak bisa menunggu seluruh warga Indonesia memiliki sikap mental seperti kelima dasar di atas, lalu baru mulai membangun. Namun setidaknya ada tiga ciri sikap mental yang kita perlukan untuk meningkatkan gairah pembangunan, yaitu 1) suatu kesadaran akan pentingnya kualitet dalam karya, yang berdasarkan konsep bahwa manusia berkarya itu guna menghasilkan lebih banyak karya lagi; 2) suatu keinginan untuk menabung, yang berdasarkan orientasi waktu ke masa depan; dan 3) suatu disiplin dan tanggungjawab yang murni, yang juga disadari kalau tidak ada pengawasan dari atas. Untuk memicu timbulnya ketiga ciri tersebut, kita memang harus lebih banyak melakukan penelitian mengenai masalah sistem nilai budaya dari manusia Indonesia yang beraneka warna.

jangan lupa beri komentar kawan ..

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s